Bantar Gebang
Berita di media kemarin mengenai longsornya timbunan sampah di TPA Bantar Gebang mengingatkan saya pada tahun lalu, saat saya dan Ira sahabat saya mengunjungi Donny, seorang relawan yang membaktikan hidupnya untuk memajukan masyarakat komunitas pemulung TPA Bantar Gebang. Kami mengenal Donny saat perusahaan tempat kami bekerja memberikan beasiswa kepada anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu. Kebetulan 2 anak dari komunitas yang Donny asuh mendapatkan beasiswa itu. Kami berdua mengunjungi Donny dengan membawa setumpuk buku cerita anak-anak dan seperangkat alat tulis untuk dibagikan kepada anak-anak pemulung yang tinggal di sekitar TPA Bantar Gebang.
Jarak kami masih sekitar 1 km dari lokasi TPA, dan kami berada di dalam mobil dengan jendela tertutup rapat, namun aroma sampah sudah tajam tercium. Bahkan pada saat-saat tertentu aroma itu dapat mencapai wilayah Bekasi Timur tempat saya tinggal, misalnya saat musim hujan atau saat terjadi longsor timbunan sampah kemarin. Mungkin aroma itu terbawa angin.
Menemukan rumah tempat Donny tinggal -sekaligus markas komunitas pemulung dan studio radio komunitas- tidak terlalu mudah, mengingat untuk menuju ke sana kita harus menyelusup di jalan setapak yang kanan-kirinya tertutup timbunan sampah. Ira yang baru pertama kali menjejakkan kaki di Bantar Gebang harus sekuat tenaga menahan rasa mualnya. Tapi lama-lama indera penciumannya bisa beradaptasi juga. Di ujung jalan setapak tadi ada pagar tembok yang berlubang. Kita melangkah ke balik tembok dan di sanalah perkampungan pemulung berada. Gubuk-gubuk terbuat dari bilik bambu berdiri tak beraturan. Anak-anak kecil telanjang bulat berlarian dengan muka cemong. Mbak-mbak berdandan menor duduk-duduk di depan gubuknya, sebagian sibuk mencuci di MCK umum terbuka. Bau sampah bukan masalah bagi mereka, mungkin karena sudah sangat terbiasa hidup di dalamnya. Melihat pemandangan itu pertama kali, saya langsung teringat pada lagu-lagunya Iwan Fals. Ternyata dunia seperti ini memang ada.
Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang pemulung yang sedang beristirahat, akhirnya kami menemukan rumah Donny. Beberapa anak dengan masih mengenakan seragam SD nampak asyik bermain-main di terasnya. Donny ini hebat. Dia dulunya sempat terjerumus menjadi pecandu narkoba, namun dia insyaf dan bangkit. Kini ia membaktikan hidupnya untuk membina komunitas pemulung TPA Bantar Gebang. Hidup di tengah-tengah sampah harus ia bayar dengan penyakit paru-paru yang kini ia derita. Tapi kelihatannya dia oke-oke saja. Donny menghidupi dirinya dan keluarganya dengan menjadi tukang ojek.
Kami berkenalan dengan anak-anak yang sedang bermain-main tadi. Mereka sangat ceria dan tidak malu-malu. Seketika suasana menjadi bertambah riuh dan meriah saat mereka tahu kami membawa banyak buku cerita dan alat-alat tulis. Anak-anak lainpun segera tertarik bergabung. Anak-anak memang selalu lucu dan menyenangkan, tidak peduli darimana mereka berasal dan dimana mereka tinggal. Mereka mengerubungi kami, antusias mendengarkan cerita-cerita. Beberapa asyik membaca buku yang kami bawa. Sama halnya dengan orangtua mereka, anak-anak itu tidak merasa terganggu dengan bau sampah. Padahal dengan udara sampah yang kotor bahaya penyakit paru-paru mengintai mereka. Menurut Donny beberapa anak memang sudah terjangkit penyakit TBC, umumnya karena tertular orangtuanya.
Di sekitar tempat tinggal Donny ada sekitar 40-50 anak usia 1-15 tahun. Dari sekian banyak anak hampir semua memiliki ketertarikan kepada buku, sayangnya tidak banyak buku yang mereka punya. Beberapa anak bahkan memiliki prestasi di sekolahnya namun terbentur biaya sehingga terancam putus sekolah. Mata pencaharian orangtua mereka adalah memulung sampah. Sepulang sekolah biasanya anak-anak itu membantu orangtuanya menyortir sampah, memisahkan sampah-sampah plastik dari yang lainnya untuk dijual ke pabrik-pabrik dan didaur ulang.
Setelah puas bermain-main dengan anak-anak, Donny mengajak kami untuk berkeliling-keliling di area TPA Bantar Gebang. Ternyata area itu sangat luas, untuk menjelajahinya kami harus berkendara. Di setiap sudut sampah menggunung. Tidak ada area yang bebas dari sampah. Donny menunjukkan juga instalasi pengolahan sampah. Instalasi tersebut relatif kecil, dibandingkan dengan lautan dan gunungan sampah yang ada. Dan kabarnya instalasi pengolahan sampah tersebut jarang digunakan, jadi fungsinya hanya formalitas saja. 'Pengolahan' sampah yang sebenarnya dilakukan oleh para pemulung sampah, yang memisahkan sampah plastik dari sampah organik untuk dijual ke pabrik.
Donny mengajak kami untuk melihat satu area di TPA tersebut yang bernama daerah Kepala Burung. Ternyata area tersebut merupakan gunung sampah yang sangat tinggi. Saking tingginya sinar mataharipun tak dapat menembus. Akibatnya wilayah sekitar kepala burung gelap gulita. Saat kami ke sana, nampak ratusan pemulung dengan menyandang keranjang dan tongkat kaitan (itu peralatan standar mereka) sedang bekerja mengais-ngais sampah. Puncak gunung sampah yang bukan main tingginya itu menyerupai kepala burung, yang kemudian dijadikan julukan daerah tersebut. Secara sekilas saja mudah terlihat bahwa daerah itu berbahaya, sangat rentan longsor karena itu bukanlah gunung yang tersusun dari tanah atau batuan yang padat melainkan tumpukan sampah yang dapat roboh sewaktu-waktu karena hujan atau tertiup angin kencang. Dan ternyata memang gunung sampah kepala burung itulah yang longsor kemarin. Menurut berita sudah ditemukan 5 korban yang meninggal tertimbun longsoran sampah. Diperkirakan jumlah korban 88 orang.
Berurusan dengan sampah memang bukan perkara gampang. Saat 3 tahun lalu TPA Bantar Gebang direncanakan ditutup, Pemda DKI langsung kelimpungan karena ke sanalah selama ini mereka membuang sampah-sampah warganya. Pemda DKI dapat bernafas lega setelah akhirnya pengoperasian TPA Bantar Gebang diperpanjang. Rencana memindahkan TPA ke wilayah Bogor pun tidak mulus. Warga sekitar menolak keras daerahnya menjadi tempat pembuangan sampah. Iyalah, siapa pula yang mau tinggal di dekat-dekat sampah...
Di sisi lain, sampah yang bagi kebanyakan orang merepotkan, bagi masyarakat yang menjalani profesi sebagai pemulung merupakan berkah, walaupun penuh risiko, baik risiko kesehatan maupun risiko sosial. Oleh karenanya sulit untuk menghimbau para pemulung untuk meninggalkan profesinya dan meninggalkan area TPA, karena di sanalah mata pencaharian mereka.
Tragedi sampah inipun bukan yang pertama kalinya. beberapa tahun lalu sampah di TPA Leuwi Gajah Bandung juga longsor dan memakan korban. Belum lagi kasus "Bandung Lautan Sampah" yang cukup membuat pusing Pemda Kodya Bandung hingga diultimatum Presiden. Sungguh ironis, sebuah kota tempat berkumpulnya para pakar dan akademisi teknologi lingkungan tidak berdaya karena sampah :-)
Tapi nampaknya pemerintah tidak lekas belajar. Jika mau sebenarnya mereka bisa mulai dari cara yang paling mudah, yaitu mengoperasikan instalasi pengolahan sampah sebagaimana mestinya. Seperti di Bantar Gebang, instalasi itu sudah tersedia, namun tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Di lain pihak kita sebagai warga juga dapat melakukan hal yang paling mudah, yaitu memisahkan sampah menjadi 3 kategori; organik, anorganik dan sampah berbahaya untuk memudahkan proses pengolahannya. Selain itu tentunya kontribusi dari para pakar teknologi lingkungan sangat diperlukan mengenai bagaimana teknik pengolahan limbah yang paling tepat. Tentunya hal ini juga untuk membuktikan bahwa para ilmuwan tidak sekadar hidup di menara gading.
Jika sampah diolah dengan baik, maka timbunan sampah di TPA cepat atau lambat akan berkurang. Dengan semakin berkurangnya sampah, akan lebih mudah memindahkan para pemulung dan mengarahkan mereka kepada profesi lain yang lebih sehat. Yang terutama diperlukan untuk membuat hal ini terlaksana hanya satu; good will.



























